Sebulan, Flu Burung Menyerang 7 Daerah

403 views

Mayoritas Kecamatan Berpotensi Tertular dan Terjangkit Flu Burung
SUMBER – Kasus flu burung kembali melanda Kabupaten Cirebon. Hingga kemarin (19/4), hanya dalam rentang waktu kurang dari satu bulan sudah ada enam kasus flu burung di Kabupaten Cirebon. Selain itu, hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Cirebon, berpotensi besar untuk penularan dan penjangkitan penyakit yang berasal dari unggas ini.
Dalam catatan resmi Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan Kehutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon, tahun 2012 ini sudah ada tujuh lokasi kejadian yang positif flu burung. Ketujuh lokasi itu yaitu Desa Muara Kecamatan Suranenggala pada 6 Februari 2012, Desa Cirebongirang Kecamatan Talun pada 27 Maret 2012, Desa Wanasaba Lor Kecamatan Talun pada 22-28 Maret 2012. Kemudian, Desa Prajawinangun Kecamatan Kaliwedi pada 24 Maret 2012, Desa Junjang Wetan Kecamatan Arjawinangun pada 8-14 April 2012, dan terbaru di Kelurahan Babakan Kecamatan Sumber pada 18 April 2012.
Sementara tahun 2011 lalu, tercatat sembilan lokasi kejadian flu burung. Yakni, pada bulan Januari 2011 di empat lokasi yaitu Kecamatan Babakan, Ciledug, Gempol, dan Kecamatan Plumbon. Sedangkan pada bulan Februari, hanya dua lokasi yakni di Kecamatan Sumber dan Beber. Bulan April dan Mei di Kecamatan Talun, dan Juli di Suranenggala. “Hampir seluruh Kecamatan di Kabupaten Cirebon berpotensi besar terkena flu burung. Khususnya, kecamatan yang memiliki populasi unggas di atas 20 ribu,” ucap Kepala Seksi Pengendalian Hewan dan Obat Hewan Bidang Kesehatan Hewan Distanbunakhut, Drh Encus Suswaningsih kepada Radar di ruang kerjanya, Kamis (19/4).
Populasi unggas di Kabupaten Cirebon, sebutnya, tahun 2011 mencapai 2,5 juta ekor yang seluruhnya berpotensi menyebarkan penyakit Avian Influenza (AI) atau yang lebih dikenal dengan istilah flu burung. “Hewan unggas itu ayam, itik, burung, dan sejenisnya,” terang dia. Sejauh ini, ayam kampung paling berpotensi mengidap AI tersebut, karena ayam-ayam tersebut tidak diberikan vaksinasi. Untuk itu, pihaknya memberikan perhatian khusus untuk penanganan sektor IV (ayam kampung) ini.
Sejauh ini, menurut Encus, Distanbunakhut dan Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya pemberantasan maupun pencegahan. Namun, pemeliharaan unggas yang masih belum sesuai standar yang ditetapkan, menjadikan pemberantasan tidak maksimal. “Unggas dibiarkan tanpa kandang, pakan unggas tidak jelas, program vaksinasi flu burung dan vaksinasi lainnya tidak ada. Ini yang membuat kita kesulitan memberantas,” ungkapnya.
Saat ini, populasi unggas yang tersebar di kantong unggas mencapai 1,7 juta ekor. Di samping itu, keterbatasan jumlah UPTD Puskeswan yang hanya ada 3 titik di Kabupaten Cirebon dengan jumlah tenaga yang minim, menjadi kendala penangan flu burung lainnya.
Penyebaran unggas yang tidak terpantau, membuat flu burung menyebar tanpa terdeteksi Distanbunakhut. Karena itu, Encus mengimbau agar hewan unggas dikandangkan dulu. Jika berpindah tempat, unggas jangan langsung digabung dengan unggas lain dalam kandang yang sama. Hal ini berpotensi menyebarkan virus AI yang akan menyerang manusia juga. “Flu burung bersifat zoonosis, artinya bisa ditularkan hewan ke manusia, dan sebaliknya bisa menular dari manusia ke hewan,” paparnya.
Penyebaran ke manusia, lanjut Encus bisa melalui veses (kotoran unggas), cairan dari mulut, mata, inhalasi atau melaui penciuman, bulu yang terlepas dari unggas dan aerogen (udara). Biasanya, sebaran virus flu burung itu banyak terjadi pada musim Januari-Maret.
Kali ini, karena adanya pergeseran musim dan manajemen pemeliharaan yang tidak baik, membuat sebaran flu burung berlaku tidak biasa. “Musim pancaroba, sehingga unggas menjadi lemah dan virus dengan mudahnya menular,” terangnya seraya mengatakan untuk kasus terbaru di Kelurahan Babakan, Kecamatan Sumber memang menjadi daerah outbreak yakni daerah yang memiliki kasus kematian unggas cukup banyak. (ysf)

View the original article here

Tags: #Daerah